DKI Peringkat Kualitas Udara Terburuk di Dunia

Jakarta – DKI Jakarta merupakan daerah dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Hingga hari ini, Rabu (15/6), konsentrasi PM 2.5 di DKI Jakarta meningkat 26,2 kali lipat dari nilai ambang batas kualitas udara World Health Organization (WHO) berdasarkan laporan Air Quality Index (AQI).

Seperti di ketahui, PM 2.5 adalah partikel udara yang lebih kecil dari 2,5 mikron (mikron).

Saat terhirup, PM 2.5 dapat berbahaya, terutama pada saluran pernapasan, menyebabkan sesak napas, iritasi mata dan hidung.

Rekomendasi Memperbaiki Kualitas Udara

Empat hal yang di rekomendasikan karena kualitas udara di DKI Jakarta terburuk di dunia, yaitu:

  1. Mengenakan masker di luar ruangan
  2. Tutup jendela untuk menghindari udara buruk
  3. Nyalakan pembersih udara
  4. Hindari olahraga luar ruangan.

Di kutip dari jurnal Pubmed, peningkatan kadar PM 2.5 bahkan bisa menyebabkan asma, penyakit paru obstruktif kronik, dan kanker paru-paru.

Dalam laporan real-time AQI pukul 11.30 WIB, terdapat sepuluh wilayah dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di DKI Jakarta, yaitu:

  • TJ Depo Pesing
  • Apartemen Thamrin Residences
  • AHP – Kapital Plaxe
  • Wisma Barito Pasifik
  • Masker RespoKare – Wisma 76
  • Widya Chandra, JK
  • Jalan Hayam Wuruk
  • harmoni gading
  • wisma matahari power
  • Depot Buaya Rawa TJ

Mengapa Kualitas Udara Jakarta terburuk di dunia?

Laporan AQI Jakarta menyebutkan salah satu faktornya adalah jumlah penduduk yang besar, jalanan di penuhi oleh sepeda motor, mobil dan truk dalam jumlah banyak.

Banyak di antaranya tidak akan memenuhi pedoman kendaraan hijau, karena banyak yang masih menggunakan bahan bakar diesel, menghasilkan tingkat emisi yang jauh lebih tinggi.

“Polusi seperti nitrogen dioksida (NO2) dan sulfur dioksida (SO2) adalah senyawa utama yang terkait dengan penggunaan kendaraan, dengan nitrogen dioksida ditemukan dalam konsentrasi tertinggi di daerah lalu lintas tinggi,” kata laporan itu.

“Selain industri otomotif yang mempengaruhi kualitas udara, batu bara dan pabrik berbasis bahan bakar fosil lainnya tampaknya menjadi isu yang relevan akhir-akhir ini.

Pada tahun 2020, ketika COVID-19 telah membuat sebagian besar kota (dan dunia) terhenti, orang akan memperkirakan tingkat polusi akan turun.

Namun sebaliknya mereka terus meningkat, terlepas dari beberapa contoh pariwisata internasional dan domestik.

Ini sebagian besar di sebabkan oleh pembangkit dan pabrik batu bara yang di sebutkan di atas,” kata mereka.

Leave a Comment